Dirilis pada tahun 2000, Yi Yi adalah film kontemplatif karya Edward Yang, menceritakan kehidupan sehari-hari keluarga kelas menengah di Taipei. Film dengan durasi hampir 3 jam ini cenderung datar dalam konteks eskalasi konflik, nyaris tidak ada plot twist dan dramatisasi momen yang berlebihan. Secara literal, film ini memang menceritakan kehidupan sehari-hari yang cukup realistis, namun, justru itu yang membuat film ini berkesan bagi saya.
Saya terobsesi dengan film sedari kecil. Namun, Yi Yi adalah film yang memperluas preferensi sinematik saya. Tidak terpikir sebelumnya bahwa film dengan tempo selambat ini bisa membekas dalam ingatan. Begitu banyak adegan tanpa dialog, sunyi, minim dinamika, namun memikat secara estetika. Salah satunya ketika NJ pergi ke Jepang untuk perjalanan bisnis, sekaligus bertemu dengan Sherry, kekasihnya saat masih sekolah. Transisi dari Taipei ke Tokyo dikemas dengan sederhana, nyaris tanpa penekanan.
Di balik kesederhanaan itu, Edward Yang perlahan membawa kita masuk ke ruang yang lebih privat. Perjalanan ini bukan sekadar urusan bisnis, melainkan ruang bagi NJ dan Sherry untuk menghadapi masa lalu yang belum selesai.
Kita diajak mengikuti mereka berjalan menyusuri Tokyo, sebuah aktivitas yang tampak biasa namun terasa sangat bermuatan. Menariknya, Edward Yang menyusun momen ini secara paralel dengan kencan pertama Ting-Ting, anak perempuan NJ, di Taipei. Estetika yang terasa ganjil ketika NJ mencoba menyalakan kembali apa yang telah padam puluhan tahun lalu, anaknya justru mulai mengenali gelora yang sama.
Ironi yang terasa lucu bagi saya adalah ketika NJ, nyaris terlibat dalam perselingkuhan dengan cinta pertamanya, Ting-Ting justru memulai kisah romansa sebagai orang ketiga dalam hubungan temannya sendiri.
Saya sungguh mengapresiasi keberanian Edward Yang untuk menampilkan emosi yang sangat mentah.
Edward Yang tidak berusaha mendikte perasaan penonton. Ia menjaga jarak, membiarkan emosi tumbuh dan bergerak dalam ruang yang canggung nan sunyi. Kamera sering terasa diam, seolah hanya mengamati, bukan mengarahkan. Kita tidak dipaksa untuk ikut merasa sedih, justru dibiarkan merasakan sendiri kekosongan yang perlahan muncul. Seperti mengintip kehidupan tetangga dari balik jendela, ada batas yang tidak pernah bisa kita langgar.
Pun begitu saat Min-Min, istri dari NJ, menyadari betapa kosong dan monoton hidup yang ia jalani. Monolognya terasa begitu nyata, tanpa scoring yang megah, tanpa visual yang berlebihan, hanya Min-Min dengan keresahannya.